Laporan Field Trip

Ilmu Hama Penyakit Tumbuhan

Disusun Oleh

Miranti Christi A (A34080007)

Dosen

Dr.Ir. Idham Sakti Harahap,Msi

Dr.ir. Sugeng Santoso,MAgr

Departemen Proteksi Tanaman

Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

2010

  1. 1. Sawi Hijau


Brassica rapa var. parachinensis L.

Sawi hijau atau Casein merupakan tanaman yang mudah untuk dibudidayakan, serta perwatannya tidak terlalu sulit.

Masa tanaman pada     tanaman ini yaitu 20 hari. Untuk harga jual pada tanaman casein berkisar Rp 1000/kg, tiap petaknya menghasilkan lebih kurang 3 kwintal. Adapun kendala-kendala yang terdapat pada tanaman ini, seperti hama.

Hama yang terdapat pada tanaman ini yaitu :

  1. Ulat lepidoptera
  2. Wereng hijau
  3. Wereng coklat (Hemiptera/Delpacidae/Nilaparpata lugens)
  4. Larva Coccinelidae
  5. Belalang (valanga nigricornis)

Gejala yang di sebabkan oleh hama  tersebut ialah korokan pada daun, nekrosis, dan gerigitan pada daun tersebut. Serta terdapat lubang-lubang kecil pada daun.

Gejala tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

  1. 2. Oyong

Luffa acutangula

Gambas atau oyong (Luffa acutangula, suku labu-labuan atau Cucurbitaceae), adalah komoditi sayuran minor. Penanamannya biasanya dilakukan di pekarangan atau bagian ladang yang tidak digunakan untuk tanaman lain. Gambas dipanen buahnya ketika masih muda dan diolah sebagai sayur.

Budidaya

Sebagai tempat merambat dibuatkan para-para (secara tradisional, bligo dirambatkan ke pohonatau atas atap). Mulai panen pada usia 3,5 bulan. hanya perlu hati-hati karena kulit buah tidak tebal dan kaku sehingga buah mudah rusak/patah.

Buah yang dapat dikonsumsi hanya buah yang masih muda, buah tua akan menghasilkan serat (seperti spon) yang dapat digunakan untuk mencuci. Harga jual pada tanaman ini berkisar Rp 2300/kg.

Hama yang menyerang pada tanaman oyong ialah

  1. Cacantal (korokan diptera)
  2. Coccinelidae
  3. 3. Serangga windowpaning (Maleuterpes dentipes )
  4. Coleoptera/Aulacovora/Crysomelidae
  5. Wereng hijau (Nephotettix virescens)
  6. Pentatomidae

Gejala yang ditimbulkan ialah daun menjadi korokan, yang disebabkan oleh cacantal kemudian pada daun terdapat  gejala kaca yang disebabkan oleh Maleuterpes dentipes, sehingga daun menjadi kering dan pucat

Gambar gelaja korokan pada tanaman oyong

  1. 3. Terong

Solanum melongena

Oganisme Pengganggu tanaman

Terung pada masa pertumbuhannya tidak terlepas dari hama dan penyakit. Hama yang menyerang tanaman terung antara lain belalang, kutu daun, kutu trip, penggerek batang, tungau kuning, tungau merah, ulat jengkal dan ulat tanduk.

Budidaya

Terung sangat mudah dibudidayakan dan tidak perlu penanganan yang rumit. Terung dapat hidup didataran rendah dan tinggi dengan ketinggian 1-1.200 dpl dan suhu optimum 18 – 25 derajat Celcius. Untuk pembentukan warna buah , terung memerlukan pencahayaan yang cukup. Terung tumbuh dengan baik di tanah lempung berpasir dan mengandung abu vulkanis dengan PH 5-6. Waktu penanaman terung yang tepat adalah pada awal musim kemarau.

Agar diperoleh tanah yang baik untuk pertumbuhan terung, perlu dilakukan langkah-langkah dalam pengolahan tanah yaitu penggemburan, pembuatan bedengan, pengapuran dan pemberian pupuk dasar. Setelah penanaman maka perlu dilakukan pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan yaitu pengairan, penyulaman, pembumbunan, penyiangan, serta pemberantasan penyakit.

Berdasarkan hasil pengamatan di cinangneng, tanaman terongnya berada pada fase vegetatif. Hama yang menyerang tanaman tersebut ialah

  • Pengorok daun liriomyza spp. (Diptera/Agromyzidae/Liriomyza spp.)
  • Wereng hijau

Gelaja yang terdapat pada tanaman tersebut ialah layu yang disebabkan oleh kekeringan, kemudian korokan yang disebabkan oleh liriomyza. Kemudian daun penggirang menguning karena kehilangan salah satu unsur hara.

Korokan pada tanaman terong

  1. 4. Padi

Oryza sativa

Hama yang sering ditemukan pada tanaman padi berdasarkan literatur yaitu:

Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker, 1863) adalah ngengat yang termasuk dalam suku Crambidae. Larva hewan ini menjadi hama penting dalam budidaya padi. Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagai sundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar dikenal sebagai beluk.

Walang sangit ((Leptocorisa oratorius Fabricius, (Hemiptera:Alydidae); syn. Leptocorisa acuta) adalah serangga yang menjadi hama penting pada tanaman budidaya, terutama padi. Hewan ini mudah dikenali dari bentuknya yang memanjang, berukuran sekitar 2cm, berwarna merah dan hitam. Walang sangit adalah anggota ordo Hemiptera. Walang sangit menghisap cairan tanaman dari tangkai bunga (paniculae) sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning (klorosis), dan perlahan-lahan melemah. Nama hewan ini menunjukkan bentuk pertahanan dirinya, yaitu mengeluarkan aroma yang menyengat hidung (sehingga dinamakan “sangit”).

Wereng coklat, Nilaparvata lugens, adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapang tedapat 2 fase pada pertnaman padi, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase fegetatif hama yang menyerang ialah keong mas, belalang, wereng coklat (nilaparvata lugens), wereng hijau (nephotettix virescens), pelipat daun (Lepidoptera/Hesperidae/Pelopidas). Pada fase generatif terdapat hama walang sangit, larva coccinellidae dan dewasanya, belalang, pentatomidae. Jadi gejala yanng di timbulkan adalah sundep kemudian benih menjadi kosong (malai hampa), nekrosis, daun melipat.

Keong mas dan telur keong mas

  1. 5. Daun Bawang

Allium fistulosum

Daun bawang sebenarnya istilah umum yang dapat terdiri dari spesies yang berbeda. Jenis yang paling umum dijumpai adalah bawang daun (Allium fistulosum). Jenis lainnya adalah A. ascalonicum, yang masih sejenis dengan bawang merah.

Hama yang menyerang pada tanaman tersebut ialah belalang, kepinding. Spodoptera exigua, liriomyza, skotinophora. Sehingga gejala yang di timbulkan adalah tanaman menjadi gerigitan pada pangkal batang yang disebabkan skotinophora, korokan pada daun

Gejala-gejala pada tanaman daun bawang

  1. 6. Jambu Biji

Psidium guajava

Jambu batu (Psidium guajava) atau sering juga disebut jambu biji, jambu siki dan jambu klutuk adalah tanaman tropis yang berasal dari Brazil, disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu batu memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah dan berasa asam-manis. Buah jambu batu dikenal mengandung banyak vitamin C.

Berdasarkan literatur organisme pengganggu tanaman pada buah jambu ialah

1) Ulat daun (trabala pallida)
Pengendalian: dengan menggunakan nogos.
2) Ulat keket (Ploneta diducta)
Pengendalian: sama dengan ulat daun.
3) Semut dan tikus
Pengendalian: dengan penyemprotan sevin dan furadan.
4) Ulat putih
Gejala: buah menjadi berwarna putih hitam, Pengendalian: dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak 2 kali seminggu hingga satu bulan sebelum panen penyemprotan dihentikan.
5) Ulat penggerek batang (Indrabela sp)
Gejala: membuat kulit kayu dan mampu membuat lobang sepanjang 30 cm; Pengendalian: sama dengan ulat putih.
6) Ulat jengkal (Berta chrysolineate)
Ulat pemakan daun muda, berbentuk seperti tangkai daun berwarna cokelat dan beruas-ruas Gejala: pinggiran daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning. Pengendalian: sama dengan ulat putih.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapang hama yang menyerang tanaman tersebut ialah bactocera spp. (Lalat buah), (penggulung daun) atteladidae, ulat kantung, penjalin daun. kemudian predator yang di peroleh ialah reduviidae. Gejala dari serangan hama tersebut ialah daun menjadi kering, keriting berwarna coklat kekuningan, buah menjadi berwarna putih, nekrosis pada daun, dan gerigitan pada daun.

Ulat kantung pada tanaman jambu biji

Gula adalah salah satu komoditas pertanian yang telah ditetapkan Indonesia sebagai komoditas khusus (special products) dalam forum perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bersama beras, jagung dan kedelai. Dengan pertimbangan utama untuk memperkuat ketahanan pangan dan kualitas hidup di pedesaan, Indonesia berupaya meningkatkan produksi dalam  negeri, termasuk mencanangkan target swasembada gula.

Indonesia merupakan negara pengimpor terbesar di dunia, setelah menjadi salah satu negara eksporter terbesar di dunia pada tahun 1930-an. Dengan jumlah pabrik gula yang beroperasi adalah 179 pabrik gula, produktivitas sekitar 14.8% dan rendemen mencapai 11.0%-13.8%. Dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton, dan ekspor gula pernah mencapai sekitar 2.4 juta ton. Hal tersebut karena tenaga kerja murah, kemudahan dalam memperoleh lahan yang subur, disiplin dalam penerapan teknologi, dan prioritas irigasi (Simatupang et al., 1999; Tjokrodirdjo, et al., 1999; Sudana et al.,2000).

Saat ini industri gula Indonesia sekarang hanya didukung oleh 60 pabrik gula (PG) yang aktif yaitu 43 PG yang dikelola BUMN dan 17 PG yang dikelola oleh swasta (Dewan Gula Indonesia, 2000).

Luas areal tebu yang dikelola pada tahun 1999 adalah sekitar 341057 ha yang umumnya terkonsentrasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Pada dekade terakhir, khususnya periode periode 1994-2004,  industri gula Indonesia menghadapi berbagai masalah yang signifikan. Permasalahannya masih berkisar pada kesenjangan antara kemampuan produksi yang masih rendah dengan jumlah kebutuhan yang terus meningkat. Sehingga solusi yang instan dilakukan pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan impor gula. Akibatnya, pasar kebanjiran gula impor yang terkadang juga disertai dengan keberadaan gula ilegal. Sementara pabrik gula lokal sulit untuk meningkatkan produksi maupun produktivitas gulanya karena mesin-mesin produksi yang dimiliki sudah tua serta rendemen relatif rendah. Selain itu, banyak petani yang enggan bertanam tebu karena faktor harga yang sangat murah. Padahal kebutuhan tebu untuk pabrik gula di Indonesia sekitar 80% diantaranya dipasok dari petani.

Pada tahun 2002, target swasembada gula pernah dicanangkan untuk tercapai pada tahun 2007. Kemudian diundur menjadi tahun 2008, lalu mundur lagi menjadi 2009, walaupun dengan catatan swasembada hanya untuk gula konsumsi masyarakat (gula putih), dan bukan gula untuk industri.

Makalah  ini menganalisis ekonomi swasembada gula, yang meliputi beberapa dimensi penting dengan konsekuensi sosial,  ekonomi dan politik yang cukup strategis yang perlu memperoleh perhatian memadai.

  1. 1. Penyakit Hawar Bakteri

Hawar bakteri pada singkong di jawa sudah diketahui sejak lama. Sebenarnya tahun 1974 rupanya penyakit Bogor. Pada tahun 1974 ternyata penyakit menimbulkan banyak kerusakan pada tanaman singkong di kebun percobaan yang terdapat di Lampung. Sampai saat ini data yang pasti mengenai besarnya kerugian belum tersedia, meskipun pernah dilaporkan adanya kerugian besar karena penyakit ini di Lampung pada tahun 1980.

gambar 1 gejala hawar bakteri

Hawar bakteri merupakan penyakit yang terpenting pada tanaman singkong di banyak negara. Penyakit ini umum terdapat di negara-negara penanam singkong di Asia, Afrika, dan Amerika latin. Besarnya kerugian tergantung dari keadaan setempat, termaksuk tingkat ketahanan tanaman. Pada tanaman yang rentan, jika keadaan membantu penyakit, kerugian dapat mencapai 90 -100%. Namun di indonesia sendiri penyakit tersebut belum banyak diteliti. Penyakit ini banyak di teliti oleh Afrika, dan Amerika Latin.

Gejala pada daun terdapat bercak kebasah-basahan, bentuknya tidak teratur , bersudut-sudut (angular), dikelilingi oleh daerah hijau tua. Gejala meluas dengan cepat dan warna bercak menjadi coklat muda, mengeriput, dan menyebabkan daun layu. Seterunya seluruh daun layu dan rontok. Bakteri menyebar dari suatu tempat ke tempat lain terutama karena terbawa dalam stek yang terinfeksi. Dengan stek ini bakteri terbawa dari musim ke musim. Bakteri ini dapat terbawa oleh tanah dengan penggarapan tanah, diperkirakan infeksi lewat tanah kurang memegang peran. Selain itu alat-alat pertanian yang terkontaminasi dapat menyebarkan bakteri, misalnya pisau yang digunakan untuk memotong stek. Selain itu bakteri terpencar oleh percikan air hujan, terutama dari getah yang keluar dari batang dan daun sakit. Manusia, hewan terbak, dan serangga dapat menularkan bakteri. Agar bakteri dapat mengadakan infeksi diperlukan udara dengan kelembaban jenuh selama 12 jam. Pada musim hujan jumlah bercak pada daun sangat meningkat.

Jenis-jenis ubi kayu mempunyai tingkat ketahan yang berbeda terhadap hawar bakteri. Ketahanan ini disebabkan oleh karena ada 3 kemungkinan : bakteri terhambat penetrasinya, bakteri tidak dapat meluas secara sistemik dan tanaman bereaksi terhadap bakteri dengan cara hipersensitif.

Di afrika penyebab penyakit lebih banyak terdapat di tanah berpasir yang miskin unsur hara. Pemupukan NPK yang optimum dapat mengurangi beratnya penyakit. Di Indonesia terbukti banwa pemupukan NPK dan bahan organik meningkatkan ketahan tumbuhan.

Penyakit dibantu oleh curah hujan , karena curah hujan akan meningkatkan kelembaban dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit tertinggi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimum untuk perkembangan penyakit adalah sekitar 300 C.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hawar bakteri ialah penanaman jenis tahan, pemakaian stek yang diambil dari tanaman yang benar – benar sehat, melaksanakan pergiliran tanaman, pemangkasan bagian tanaman di atas tanah dapat mengurangi pemecaran penyakit, khususnya pada tanaman yang mempunyai ketahanan tinggi atau sedang, dan pertahan belum terinfeksi berat. Kemudian cara yang berikutnya ialah membuat bibit sehat dengan mengakarkan ujung-ujung batang. Ujung-ujung batang akan tetap dari bakteri meskipun tanamannya terinfeksi berat.

  1. 2. Penyakit layu bakteri

Batang ubi kayu (singkong) yang sakit layu dapat diisolasi bakteri peseudomonas solanacearum. Ubi kayu (singkong) yang terkena sakit lendir atau sakit layu ini disebabkan oleh bakteri. Berebeda dengan hawar bakteri yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada penyakit layu ini daun – daun layu bersama-sama dan untuk sementara tetap melekat pada batang.

gambar 2 gejala layu bakteri

Nishiyama et al. (1980) meneliti penyakit pada ubi kayu di Indonesia. Di laporkan bahwa gejala penyakit layu bakteri pada ubi kayu dapat dibedakan menjadi 3 tipe : tanaman layu, daun gugur dan mati ujung. Biasanya kedua gejala yangn pertama disertai dengan perubahan warna pada bagian-bagian di bawah tanah, sedangkan hal ini tidak terjadi pada tipe ke tiga. Isolasi dari tanaman sakit dengan gajala – gejala yang berbeda tipenya menghasilkan 2 kuloni yang jelas berbeda putih cair dan putih berlendir.

Seterusnya diketahui bahwa koloni yang putih cair adalah koloni Pseudomonas solanacearum, diisolasi dari tanaman dengan gejala layu dan gugur daun. sedangkan koloni yang berwarna putih berlendir adalah koloni Xantomonas campestris pv. manihotis. Penyebab hawar ubi kayu, di isolasi dari tanaman yang bergejala mati ujung.

Pseudomonas solanacearum merupakan salah satu patogen terpenting dari golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit layu bakteri yang tersebar secara luas pada daerah tropik dan subtropik serta daerah-daerah bersuhu panas di dunia.

Usaha pengendalian P. solanacearum dengan menggunakan varietas tahan dan antibiotika (bakterisida) ternyata membawa masalah baru dengan munculnya ras-ras baru patogen yang lebih virulen, sehingga perlu dicari suatu pengendalian lain yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu agens antagonis yang mempunyai potensi besar dalam pengendalian penyakit layu bakteri adalah Pseudomonas kelompok flurescens yang mampu mengkolonisasi daerah perakaran dan menghasilkan senyawa-senyawa siderofor yang berperan dalam pertumbuhan tanaman dan pengendalian hayati.

Untuk dapat menyediakan paket teknologi yang berwawasan lingkungan dalam rangka pelaksanaan program pengendalian hama dan penyakit terpadu yang mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan, maka penelitian terhadap antagonis P. flurescens perlu dilakukan terutama dalam aspek keragaman molekuler, aspek biologi dan aspek ekologinya. Penelitian ini lebih difokuskan pada pengaruh aspek abiotik dan lingkungan terhadap P. fluroscens terutama pH, suhu, dan radiasi sinar matahari terhadap kebugaran agens antagonis yang ditunjukkan oleh perkembangan agen antagonis tersebut sehingga diketahui sifat-sifat unggul dimana daya antagonistik tinggi dan daya adaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan juga tinggi.

Isolasi Pseudomonas kelompok fluorescens dan uji kemampuan antagomis terhadap Pseudomonas solanacearum. Kandidat bakteri antagonis dipilih berdasarkan kriteria standar Pseudemonas flurescens yaitu koloni yang muncul paling awal dan fluorensi yang terlihat jelas. Bakteri Pf hasil isolasi kemudian diuji daya antagonismenya terhadap P. solanacearum dan dilihat persentase daya penghambatannya dengan menggunakan rumus Fokkema (1993) yang domodifikasi. Rata-rata persentase antagonis menunjukkan bahwa isolat bakteri Pf asal Sukamantri memiliki daya penghambatan terhadap P. solanacearum paling tinggi (94.24%) sedangkan isolat Pf asal Maribaya menunjukkan persentase penghambatan terhadap P. solanacearum paling rendah (24.02%). Deteksi senyawa antibiosis dilakukan dengan menggunakan fitrat dari suspensu Pseoudomonas kelompok fluorescens dan suspensi P. solanacearum yang dibiakan dalam media yang sama. Proses antagonisme terlihat dengan terjadinya penghambatan pertumbuhan P. solanacearum dalam media. Deteksi senyawa antibiosis terhadap delapan belas isolat bakteri Pf menunjukkan bahwa mekanisme antagonisme seluruh isolat bakteri terhadap P. solanacearum adalah dengan senyawa antiiosis. Derajat kemasaman (pH) untuk perlakuan diperoleh dari larutan HCI untuk asam dan NaOH untuk keadaan basa. Tingkat pH yang diuji adalah 5, 6, 7, 8, dan 9. Parameter yang diamati sebagai respon dari perlakuan adalah doubling time dan populasi maksimum bakteri Pf. Hasil pengujian menunjukkan pada pH 6 dan pH7 terjadi tingkat populasi maksimum dan doubling time terendah. Koloni bakteri yang telah disuspensikan dengan buffer fosfat dalam erlemeyer diinkubasikan dalam water bath dengan suhu perlakuan 23, 25, 27, 30, 33, dan 36 C. Parameter yang diamati adalah doubling time dan populasi maksimum. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum sebagian besar bakteri pada suhu 25 C. Populasi maksimum tertinggi dan doubling time tercepat terdapat pada isolat bakteri Pf G1-21 pada suhu 25 C. Keragaman molekuler diantara isolat Pseudomonas kelompok fluorescens telah ditunjukkan melalui RAPD menggunakan primer 1 dan 5. Berdasarkan pola RAPD terdapat tiga kelompok isolat yang menunjukkan perbedaan strain, yaitu kelompok 1 (Pf GI-21, Pf GI-26, Pf Gi-44, Pf GI-50, Pf GI-51 dan Pf GI-17) yang mempunyai 6 fragmen DNA, kelompok 2 (Pf GI-31 dan Pf GI-37) membentuk 4 fragmen DNA dan kelompok 3 (Pf GI-11) mempunyai 5 fragmen DNA.

Berdasarkan pengujian lapang menurut Nakagawa (1978) kultivar kuning paling rentan terhadap layu bakteri, diikuti dengan SPP Pandesi dan Genjah. Galur dan klon terbukti tahan (tahum, ketan merah, SPP, singkong putih, W 528, ketan putih, genjah hitam, baserat no 802 dan no 547)

  1. 3. Bercak Coklat
gambar 3 gejala bercak coklat

Untuk pertama kalinya penyakit beercak coklat pada ubi kayu ditemukan oleh Zimmermann di Jawa pada tahun 1902. Penyakit ini tersebar di seluruh Indonesia.   Ternyata bahwa penyakit tersebut terdapat disemua daerah penanaman ubi kayu di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Penyakit ini merupakan penyakit daun yang paling penting pada tanaman ini.

Gejala yang timbul ialah bercak tampak jelas pada kesua sisi daun. pada sisi atas bercak tampak coklat merata dengan tepi gelap yang jelas. Pada sisi bawah daun tepi bercak kurang jelas dan di tengah bercak coklat terdapat warna keabu-abuan karena adanya konidiofor dan konidium jamur. Bercak berbentuk bulat dengan garis tengah 3 – 12 mm. Jika berkembang bentuk bercak dapat kurang teratur dan agak bersudut – sudut karena dibatasi oleh tepi daun atau tulang – tulang daun. Jika penyakit berkembang dengan terus menerus daun yang sakit menguning dan mengering dan dapat gugur. Pada cuaca hujan dan panas jenis rentan dapat menjadi gundul .

Penyebab penyakit bercak coklat ialah cercosporidium henningsii. Hifa cendawan ini berkembang dalam ruang sela-sela sel, membentuk stroma dengan garis tengah 20 – 45µm. Stroma membentuk konidiofor dalam berkas – berkas yang rapat. Konidiofor coklat kehijauan pucat, warna dan lebar merata, tidak bercabang, dengan 0 – 2 bengkokan, bulat pada ujungnya dan mempunyai bekas spora yang kecil atau sedang. Konidium dibentuk pada kedua sisi daun pada ujung konidiofor, berbentuk tabung, lurus atau agak bengkok, kedua ujungnya membulat tumpul, pangkalnya berbentuk tumpul. Cendawan membentuk peritesium hitam, bergaris tengah 100µm, kadang – kadang tampak tersebar pada bercak di permukaan atas daun. Askus seperti gada memanjang, berisi 8 spora.

Daur penyakit pada tanaman ini berasal dari angin atau hujan yang membawa spora dari bercak tua dan daun tua yang sudah rontok ke permukaan daun sehat. Jika udara cukup lembab, konidium berkecambah, membentuk pembuluh kecambah. Penetrasi terjadi melalui mulut kulit dan jamur meluas dalam jaringan lewat ruang sela-sela sel. Dalam cuaca panas dan lembab memerlukan waktu 12 jam. Selama musim kemarau cendawan mempertahankan diri pada bercak-bercak tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit sangat bergantung pada ketahan ubi kayu yang memiliki ketahan berbeda pada bercak coklat. Pada umumnya daun tua lebih rentan daripada daun muda yang lebih tinggi letaknya. Tetapi pada jenis yang rentan, tangkai daun, bahkan buah yang muda sering terdapat serangan yang berat. Penyakit ini sangat dibantu oleh curah hujan dan suhu yang tinggi

Pengendalian dari penyakit ini ialah dengan menanam jenis yang tahan, menanam tidak terlalu rapat untuk mengurangi kelembaban pertanaman, pengendalian dapat dilakuakan dengan penyemprotan fungisida tembaga. Tetapi biaya pengendalian ini mungkin tidak tearturup oleh kenaikan biaya produksi yang di peroleh.

  1. 4. Bercak Daun Baur

Bercak daun baur berasal dari daerah Brazilia, Colombia dan Amerika Selatan. bercak daun baur ini belum menyebar secara meluas di indonesia, tetapi hanya terdapat  di Malang.

gambar 4 gejala bercak daun baur

Adapun gejala bercak daun baur pada ubi kayu adalah: bercak daun besar, berwarna coklat, tanpa batas yang jelas. Tiap bercak meliputi seperlima dari luas helaian daun atau lebih. Permukaan atas bercak berwarna coklat merata, tetapi dipermukaan bawah pusat bercak yang berwarna coklat terdapat keabu-abuan, disebabkan adanya konidiofor dan konidium dari Cercospora viscosae.

Cendawan ini tidak membentuk stroma, tetapi membentuk spora secara merata. Konidiofor coklat kemerahan. Membentuk berkas yang mirip koremium dan konidiumnya seperti gada terbalik silindris. Konidiumnya dipencarkan oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan yang lebih besar dalam pemencarannya. Cendawan mengadakan penetrasi langsung dengan menembus permukaan lateral sel-sel epidermal, atau melalui mulut kulit. Infeksi dapat melalui dua sisi daun, tetapi yang paling banyak melalui epidermis atas ( Kranz et al.1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit bercak daun baur adalah curah hujan, suhu dan kelembapan. Penyakit timbul pada musim hujan, tetapi gejalanya akan timbul pada musim panas. Suhu dan kelembapan yang rendah akan membuat penyebaran penyakit akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Ketahanan terhadap bercak daun mempunyai kolerasi dengan tebalnya jaringan palisade dan ukuran mulut kulit daun. Penyakit ini juga timbul akibat kekurangan magnesium.  Pada umumnya penakit ini tidak menimbulkan kerugian, hanya terdapat pada daun tua, meskipun kadang-kadang dapat menyebabkan daun gugur.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan penanaman varietas tahan (seperti varietas Malang 2), pergiliran tanaman, pemakaian stek sehat (dilakukan strilisasi stek supaya bebas dari patogen), memotong bagian daun yang terserang, dan memekai Fungisida (penyemprotan Perenox 5% 2 minggu sekali).

  1. 5. Bercak Daun Phyllosticta

Penyakit ini sudah dikenal  di Malaysia, Filipina, India, Afrika, Amerika Selatan DAN indonesia. Di indonesia penyakit ini berada di Malang yang menyerang tunas dan menyebabkan mati ujung.

Gejala yang ditimbul kan oleh cendawan ini berupa bercak besar pada daun, berwarna coklat, biasanya dengan tepi yang kurang jelas. Bercak umumnya terdapat pada ujung daun,  tepi helaian daun, sepanjang tulang tengah daun dan tulanfg daun yang besar. Permukaan atas bercak mula-mula terdiri dari cincin-cincin sepusat yang terbentuk oleh pikndium berwarna coklat. Bercak yang tua tidak mempunyai cincin, karena piknidium yang masak tercuci oleh air hujan. Jika udara sangat lembab bercak dapat tertutp oleh hifa coklat kelabu. Pada permukaan bawah daun , tulang-tulang daun yang kcil sekitar bercak menjadi rusak dan membentuk garis-garis hitam yang memancar bercak. Bercak – bercak berkembang menjadi hawar daun, akhirnya seluruh daun dan tangkai menjadi coklat tua, layu dan rontok. Pada infeksi yang berat , cendawan menyerang tunas yang masih muda dan menyebabkan mati ujung. Batang yang sakit berwarna coklat dan tertutup oleh piknidium.

Cendawan ini banyak membentuk piknidium yang berwarna coklat tua, bulat dan membentuk kumpulan kecil pada daun atau batang. Piknidium dengan garis tengah 100-170 µm, ostiol berukuran 15-20 µm, dindingnya terdiri dari sel-sel bersegi banyak. Konidiofor pendek, hialin, membentuk suatu konidium kecil dan bersel satu.

Pemencaran penyakit ini melalui percikan air hujan, angin dan alat pertanian. Beratnya penyakit berkolerasi dengan keadaan lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan spora. Spora berkecambah paling baik pada suhu 20-25 ˚C. bercak daun Phyllosticta banyak terdapat di tempat-tempat yang tinggi, atau dataran rendah selama musim hujan.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman (mengganti dengan tanaman tebu), menanam varietas tahan, pemakaian stek yang sehat, memotong bagian tanaman yang sakit, dan memakai fugisida pada tanaman yang telah terinfeksi berat.

gambar 5 cendawan phyllosticta spp.

Permasalah pada ubi kayu (singkong) yang terjadi di lapang

Tanaman ubi kayu (singkong) ini banyak terserang oleh hama, penyakit dan gula. Hama yang menyerang dan cara pengendaliannya ialah Uret (Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari tanaman. Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak. Pengendalian: membersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

Kemudian Tungau merah (Tetranychus bimaculatus) Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. Gejala: daun akan menjadi kering. Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

Penyakit yang menyerang ialah Bercak daun bakteri. Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG . Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati. Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.

Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith) Ciri: hidup di daun, akar dan batang. Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

Bercak daun coklat (Cercospora heningsii). Penyebab: cendawan yang hidup di dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati. Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica) Penyebab: cendawan yang hidup pada daun. Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .

Selain hama dan penyakit permasalahan berikutnya adalah gulma. Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman. Khusus gulma dari golongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengan cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati. Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon dactilon), rumput pahit (Paspalum distichum), dan rumput sunduk gangsir (digitaria ciliaris). Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

Selain keluhan dari hama, penyakit dan gulma petani juga mengeluhkan harga jual singkong yang sangat rendah. Harga singkong semakin anjlok, dalam kondisi normal harga mencapai RP 400 per kg, mengalami penurunan menjadi Rp 250 kg. Kondisi seperti ini menjadi keluhan para petani singkong karena harga singkong semakin hari semakin bertambah turun. Keluhan kali ini disampaikan Rozali warga bedeng satu, kelurahan Kotabumi Udik, Kabupaten Lampung Utara. Menurutnya,  penyebab anjloknya harga singkong adanya isu krisis global, ditambah lagi, akan ditutupnya pabrik tapioka, Teguh Wibawa Bhakti Persada (TWBP), yang berada di desa kali cinta, Kecamatan Kotabumi Utara, Lampung Utara (Lampura) beberapa waktu lalu. Rozali menjelaskan, harga singkong mula-mula tinggi hanya bertahan sekitar 7 bulan lalu, karena tergiur harga yang cukup tinggi, ia ikut-ikutan untuk menanam singkong seluas 4.5 Ha. Sebelum ditanam singkong ia membuka perkebunan lada, lalu, dirubah menjadi lahan untuk ditanami singkong, “Harga singkong semakin menurun berakibat dirinya terancam mengalami kerugian. Saya tidak menyangka harga singkong turun seperti ini,’’ keluhnya. Selanjutnya, terang Zali, harga singkong mengalami penurunan karena terjadi krisis global, yang berakibat harga-harga khususnya sebilan bahan pokok (sembako) melambung tinggi sedangkan harga barang pertanian menurun di pasaran, akibatnya para petani mengalami kerugian yang cukup drastis.